sponsor

Terbaru

Perspektif

Opini

Semantik

Anabel

Kolom Puisi

Sejarah

Belajar Dari Sosok Kartini


“Menyandarkan diri kepada manusia samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah adalah hanyalah satu, siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia benar-benar bebas” (Surat R.A Kartini kepada Ny. Ovink, Oktober 1990)

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Kartini adalah simbol kebangkitan dan pergerakan wanita yang langkahnya diilhami oleh nilai-nilai ajaran Islam. Terlahir sebagai putri dari seorang Bupati Jepara menyebabkan dirinya dikungkung oleh adat istiadat yang mengharuskannya mengasingkan diri dari dunia luar sampai ketika memiliki suami. Kartini berupaya untuk lepas dari keadaan yang merantainya tetapi beban yang dipikulnya terlalu berat sehingga membuat pikiran dan mentalnya matang lebih cepat dari yang seharusnya.

Sejak ia masih muda hingga akhir hidupnya, ia memiliki kebiasaan membaca buku. Waktunya banyak dihabiskan untuk memberi makan jiwanya yang lapar akan pengetahuan, pencerahan, kasih dan keadilan yang tidak bisa dia dapatkan dari sekolah. kebiasaan yang dipeliharanya ini pula yang mendorong Kartini sangat sering melakukan korespondensi. Karena perkataannya tidak diamini oleh orang-orang yang ia harapkan, segala keinginan dan perlawanannya ia tuliskan diatas kertas kepada sahabat-sahabat lintas negara yang dikenalnya melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam sebuah majalah dengan harapan agar keinginannya mendapatkan respon baik dari sahabat-sahabatnya. Hanya untuk sekadar meyakinkan bahwa pemikiran akan kebebasan dan kepedulian akan pendidikan bukan hanya dimilikinya seorang. Kumpulan surat R.A Kartini yang menginspirasi banyak orang terutama kaum wanita sepanjang masa bisa didapatkan dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Terbatasnya ruang gerak sebagai seorang bangsawan tidak menghalangi keinginan besarnya untuk mengabdikan diri kepada kebajikan serta memajukan peradaban dan pendidikan kaum wanita agar kelak wanita memiliki posisi yang layak dan bersifat egaliter dengan kaum laki-laki. Pada saat itu, keberadaan wanita di Jawa tidak lain hanya menjadi manusia yang termarginalkan. Kezaliman yang dianggap kelaziman ini sangat menyakiti hati Kartini. Dia menginginkan agar wanita mendapatkan pendidikan layaknya laki-laki. Bagaimanapun, banyak wanita di Jawa memiliki kecakapan khusus dalam berbagai bidang tapi tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengembangkannya. Pikiran Kartini dipenuhi oleh mimpi besar dibalik umurnya yang masih tergolong muda. Untuk itu, Segala kesulitan dihadapinya dengan teguh termasuk perselisihan yang kerap kali terjadi diantara Kartini dan keluarganya. Di sisi lain, Kartini sangat menghargai dua manusia yang telah merawatnya dari kecil. Tak terbesit sedikitpun niat di hatinya untuk mematahkan hati ibu bapaknya.

BACA TULISAN DI RUBRIK SOSOK LAINNYA DISINI

Keinginan yang terus dia pupuk memicu dilakukannya segala hal agar dapat keluar dari belenggu yang mencambuknya terus-menerus. Tiada lain yang bisa dilakukannya selain tegak berdiri melawan ketidakadilan yang terjadi padanya. Kartini menolak tunduk pada kekejaman zaman dan memilih untuk menemukan jalan baru diantara kemungkinan buruk yang mengancamnya saat mengambil langkah nyata untuk mewujudkan impiannya.  Betapa tidak, dia sama sekali tidak mendapat dukungan dari seorangpun di sekitarnya. Bukannya menyerah, semangatnya kian membara untuk lepas dari belenggu adat-istiadat demi mewujudkan cita-cita besarnya. Tak henti-hentinya ia melakukan perjuangan untuk kebahagiaan masyarakat luas.

Pada akhirnya beberapa sekolah berhasil didirikan atas segala usaha Kartini yang diperuntukkan untuk perempuan pribumi. Sekolah Kartini pada awalnya dibangun di Semarang pada tahun 1912 lalu didirikan di beberapa tempat lainnya. Mari belajar dari R.A Kartini, didorong oleh pemikiran yang maju serta niat yang mulia untuk mengusahakan pendidikan untuk kaum wanita berhasil dia wujudkan dengan keyakinan yang besar. Betapa berharganya menjadi wanita yang merdeka dan alangkah bahagianya ketika segala hak terpenuhi.

Bayang-Bayang Asumsi Politik Dibalik Aksi HmI Parepare



“Kami mengutuk kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi listrik rakyat Bahwa Pencabutan Subsidi listrik adalah merenggut hak Rakyat dan sangat membebani rakyat karena dangan pencabutan subsidi tersebut membuat tarif dasar listrik meningkat lebih dadri 100%. sehingga kami mendesak pemerintah untuk mengembalikan subsidi listrik milik rakat”

Demikianlah point pertama yang termaktub dalam pernyataan sikap Aksi Hmi Cabang Parepare, aksi yang diikuti ramai sepasang kaki yang sesekali berseru “hidup mahasiswa, hidup rakyat !”, aksi yang mencoba memblejeti rezim Jokowi-Jk di akhir-akhir kekuasaannya, sebelum bergulir dalam pesta ilusi demokrasi di tahun 2019 nanti.

Mendengar seruan aksi dan melihat gegap gempita mahasiswa berbondong turun kejalan menjadi pemandangan yang indah dipelupuk mata, bagaimana tidak, setelah kian hari telah jarang ditemui. Gerakan mahasiswa yang telah lama sibuk di kantin-kantin kampus seolah digedor kembali untuk ikut sadar dan kembali pada koridor sebagaimana tradisi dan budaya alamiah gerakan mahasiswa, gerakan yang terhubung dengan elemen diluar dirinya ; petani, buruh, nelayan, kaum kere kota-rakyat secara umum.

Siang tadi teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam telah berusaha melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh gerakan mahasiswa. Tidak hanya kemudian menyikapi keluh kesah rakyat akan berbagai macam kebijakan yang semakin menyengsarakan dirinya, tetapi bagaimana mengembalikan khittah gerakan mahasiswa yang sejati.

Berbagai macam tuntutan diserukan (Baca Pernyataan SikapAksi HmI), rentetan kalimat agitatif terdengar lantang dari toak yang tergenggam erat ditangan orator. Berusaha menyampaikan keluh kesah rakyat atas kedzaliman si pemegang tahta kuasa, begitu menurutnya.

Tetapi ada yang kemudian mengganjal sisi lain dari diri saya, ekstrimnya langsung menjatuhkan penghakiman yang bersifat asumsi, bahwasanya aksi Hmi Parepare bertendensi menolak rezim Jokowi dan berdiri pada barisan sebagai pendukung salah satu kandidat yang sudah pasti bukan Jokowi dan gerbong PDIP. Tetapi tenang saja, sisi lain diri saya pun tak sependapat dengan pernyataan tersebut, itu tuduhan yang ngawur, bukan analisa kritis.

Lama kelamaan seolah apa yang disampaikan sisi lain dari diri saya mencoba untuk kembali diperdebatkan dalam pikiran dan hati, seolah-olah memeberikan beberapa pemaran sebagai penopang dari argumentasinya. Memang agak rumit memberikan sikap terhadap Aksi tersebut, dilain sisi ikut mendukung gebrakan yang dilakukan (karena seolah kembali memperlihatkan betapa runcingnya mata tombak gerakan jika terus di asa) tetapi juga meninggalkan rentetan pertanyaan, mengapa dilakukan ditahun-tahun politik seperti sekarang ini, tidak kah itu akan mengundang banyak sikap (pemblejetan) dari berbagai kalangan, begitupun saya sebagai salah satu kader.

Kita bisa kembali menengok dan belajar dari kasus Puisi “Ibu Indonesia”. Jelas bagaimana reaksi berlebihan masyarakat terhadap Puisi “Ibu Indonesia” dari Soekmawati Soekarno Putri. Kesalahan dari puisi itu sebenarnya tidak ada, kalaupun ada anggaplah itu tidak signifikan, toh orang bebas mengeksplor kata demi kata dari pikiran dan apa yang ia rasakan, tetapi yang keliru ialah ketika dibacakan dalam konstalasi politik yang sedang sensitif, belum lagi soal latar belakang si pembuat dan pembacanya, dimana kita tahu Soekmawati adalah adik dari pemegang kendali PDIP sebagai partai yang memegang rezim hari ini. Hal yang sama lah yang saya (sebagai Kader) takutkan terhadap aksi teman-teman HmI Cabang Parepare siang tadi, jelas akan berpotensi melahirkan banyak asumsi bahkan pemblejetan dari berbagai kalangan.

Tetapi memang agak sulit menghindari asumsi bahkan kritik itu, apalagi jika ditopang oleh track record dan historical HmI itu sendiri. Riuh rendah para senior sudah mulai terlihat dibeberapa perhelatan politik nasional dan daerah, artinya nilai luhur yang coba dijaga kian zaman mulai terkikis hingga syahwat politik sudah mulai tumbuh didalam lingkar organisasional.

Di ulang tahun ke 70 Nurcholis Madjid sempat mengeluarkan pernyataan tentang pembubaran HmI, pernyataan itu ditopang oleh hal yang ia temui di masa dewasa HmI, dimana HmI sering kali dijadikan batu loncatan senior dalam menyulam karir politiknya. Sebenarnya hal semacam ini tidak hanya dialami oleh HmI saja, organisasi lain pun demikian. Kekeliruannya memang berdasar pada budaya senioritas yang terus dijaga dan kembangkan sebagai dogma, hingga kerap kali kita temui praktik “pencabulan” senior terhadap intelektualitas dan analisa kritis kader-kader baru atau junior.

BACA TULISAN OPINI LAINNYA DISINI

Politik praktis memang sering kali menjadi penyakit bagi lingkar gerakan, organisasi apa pun itu. Belum lagi soal hubungan antara junior yang masih terwadahi oleh organisasi dengan para senior yang sudah berkarir dalam politik parlementariat, senior yang terkadang menyelipkan latar belakangnya bahwa ia dari bendera ini dan itu. Celah ini lah yang terkadang mengotori khittah gerakan organisasi khususnya kelompok cipayung yang memang banyak mengkontribusikan kadernya dalam konstalasi politik negeri. Dan parahnya jika ada kebanggan dengan alumni-alumni (baca kakanda-kakanda) yang kini duduk di kursi-kursi kekuasaan, karena hal ini bisa berakibat pada pengendalian licik terhadap organisasi oleh senior demi menopang kepentingan politiknya.

Begitulah demikian sisi kelam gerakan mahasiswa dari jaman ke jaman, peralihan politik jalanan ke politik parlementariat sudah sering kali terjadi (Baca Gerakan Mahasiswa : DariPolitik Jalanan ke Politik Parlementariat). Kita juga bisa belajar dari bagaimana memori kelam peristiwa 98 dimana sebagian mahasiswa tertembus peluru aparat, dan sebagiannya lagi kini berteman dengan aparat yang (dahulu) menembaki teman-temannya.

Sekali lagi tulisan ini tidak sedang memblejeti siapapun dan apapun, hanya berusaha menghadirkan bahan evaluasi dan refleksi agar kedepan kita sama-sama mampu melahirkan sikap yang (setidaknya) tidak bertendensi kepentingan politik. Semoga kita (sesama kader) bisa saling menjaga nilai luhur organsiasi dan selayaknya kader maju, tidak gagap dalam bertindak, selanjutnya mulai mengikis praktek komando kaku senior agar tidak mudah digerakkan sana sini sesui dengan tuntutan kepentingan politik yang tengah dibangunnya.

Saya ikut mendukung dan berseru atas kedzaliman rezim Jokowi-Jk yang kian hari makin beringas dengan berbagai kebijakan dan regulasi yang tidak pro terhadap rakyat dan mencoba menyumbat ruang-ruang demokrasi rakyat. Tetapi bukan berarti saya mendukung kelompok politik lain atau kandidat politik dalam pesta ilusi demokrasi 2019 nanti, karena saya sadar siapapun kandidatnya selama ia berkendara partai politik borjuasi, selama itu pula ia akan menjadi penyambung tangan ekonomi global dalam memeras rakyat Indonesia.


Idam Bhaskara (Desain Grafis Ngemper!)
Penulis Bisa Dihubungi via Wa 085397849128

Hanya Kota Ini


Di pinggir jalan berjejer para pekerja seni, ada yang memahat kayu menyerupai kepala hewan, pelukis yang redup matanya tetapi jiwanya berbinar, perempuan paruh baya berusara merdu membuat sendu. Bukan hanya itu, berbagai jenis jualan juga berjejeran dengan rapi pada sisi jalan raya. Mereka menawarkan bunga untuk kau berikan kepada kesayanganmu atau menjadi hiasan meja makan, permen lolipop yang ceria, buku-buku bekas berkharisma, dan berbagai jajanan makanan ringan yang tidak mengeyangkan. Mereka memilih pinggir jalan sebagai ruang interaksi sebab di jalanan mereka bebas berekspresi, menatap apa saja di sekelilingnya seperti langit dan gedung-gedung tua, bertemu orang-orang baru, berbincang hangat seperti dua orang kawan lama. Mereka dapat memperlambat laju kendaraan setiap yang lewat, gara-garanya pengemudi yang selalu menoleh ke arah sisi jalanan karena penasaran dengan karya para seniman Kota Ini. Keberadaan para seniman dan penjual telah menjadi ciri Kota Ini, rasanya seperti mengunjungi sebuah pameran karya yang digelar di di sepanjang jalan, di sepanjang hari. Kemacetan adalah parade yang paling ditunggu oleh setiap pengemudi, macet berarti mereka dapat lebih lama menikmati seniman yang unjuk gigi mempertontonkan karya mereka. Begitupun dengan para penjual yang ikut berjejeran di sepanjang jalan, mereka menyapa pengemudi dengan ramah sambil menawarkan sesuatu dan berharap akan tertukar dengan uang. Kemacetan begitu dicintai di Kota Ini.

Ada banyak hal yang membuat Kota Ini benar-benar berbeda. Di kota-kota lain, menjadi PNS merupakan kebanggan dan segala bentuk kenyamanan hingga jaminan hidup dapat terpenuhi. Maka dari itu, hampir seluruh orang memimpikan pekerjaan itu tanpa terkecuali para orangtua yang memimpikan anaknya. Tetapi di Kota Ini terjadi sebaliknya, menjadi PNS adalah hal yang paling dihindari oleh sebagian besar orang muda, yang terbilang produkrif di Kota Ini. Mereka lebih memilih memegang cangkul, mengemudi sampan atau menari dengan kuas di hadapan kanvas. Seluruh pegawai yang mondar-mandir di kantor milik pemerintah adalah mereka yang merantau jauh-jauh demi mengabdi kepada negara, di dadanya ada rindu yang tersekat oleh kebanggan. Sanak keluarga mereka di kampung halaman akan berbangga hati menceritakan siapa anaknya dan sebagai apa anaknya di rantau, meskipun dalam benak kedua orangtuanya telah bersemayam sunyi, yang mulai nampak kusam menunggu kepulangan anak-anaknya. Tiada lain yang dapat orangtua lakukan selain merapal doa-doa ke angkasa, di hening malam saat kening menunduk, itulah doa para orangtua yang melesat ke langit tanpa putus, tiada henti.

Salah seorang penduduk di kota ini pernah merantau dan bertahun-tahun menjadi pengabdi negara. Sepulang dari rantau, dia bercerita banyak hal tentang pekerjaannya. Dia menceritakan bahwa menjadi seorang aparatur negara adalah kesenangan tersendiri, sebuah alat yang sangat ampuh untuk membeli rasa hormat dari orang-orang. Gaji yang tidak terlalu tinggi tetapi bisa menjadi jaminan masa depan. Pekerjaannya tidak berat, tidak harus menggunakan otot cukup menundukkan ego menerima perintah atasan, meski keinginan memberontak selalu muncul, mereka harus memilih lapang dada sebagai persembunyian. Berpakaian seragam ditambah dengan lambang dan ornamen yang lebih berfungsi menegaskan siapa dirinya, setinggi apa pangkat dan jabatannya. Akhirnya dia pensiun dan masih menerima upah dari negara atas jasa pengabdiannya, kemudian negara mengembalikannya menjadi bukan siapa-siapa lagi.

Tidak ada restoran atau rumah makan di Kota Ini, restoran hanya untuk orang-orang yang cinta kemewahan, sedangkan penduduk kota ini penganut sederhana. Mereka tidak ingin membuang waktu duduk berlama-lama menunggu pesanan makanan, yang sangat minimalis dan mahal. Sepertinya restoran sengaja diciptakan untuk mengundang sunyi duduk bersama lalu menertawainya. Hampir sama dengan kafe-kafe, penduduk di kota ini tidak tahan duduk berjam-jam hanya untuk membicarakan negara yang terkatung-katung. Penduduk Kota Ini tidak membutuhkan kafe untuk menghindari sunyi atau duduk mengenang kekasihnya yang entah sekarang sedang berada di pelukan siapa. Mereka tidak perlu ke kafe bertemu teman-temannya, lalu tertawa terbahak hingga tanpa mereka sadari pengunjung yang lain telah tanggal satu persatu, juga minuman di gelas telah tandas. Cara yang buruk membunuh waktu.

Perekonomian di Kota Ini bergerak mengalir seperti air, tidak ada yang mendominasi dan makan dari perbuatan mencurangi orang lain, melalui tawaran produk atau asuransi jiwa. Masyarakat paham betul dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari, mereka mengenal tiap resiko dari pekerjaannya, mulai dari resiko kerugian hingga resiko kehilangan nyawa. Mereka menganggap pekerjaannya hanyalah memberi manfaat bagi siapapun yang membutuhkan, maka kehilangan nyawa karena pekerjaan hanyalah cara Tuhan menggenapkan amalnya masuk ke surga, tidak ada yang perlu dirisaukan. Tawaran asuransi jiwa hanyalah seperti menabung untuk sebuah perayaan menunggu kematian, kita menimbun agar dapat menghibur orang-orang yang akan kita tinggalkan kelak, agar mereka tidak nelangsa dan segera ikhlas.

Selain aasuransi jiwa, asuransi kesehatan juga tidak berlaku di Kota Ini. Penduduk tidak perlu merasa terancam oleh berbagai penyakit yang akan bersarang pada tubuh mereka. Angka kematian dengan alasan sakit jumlahnya hampir tidak ada, kecuali penduduk yang sudah tua dan memiliki usia menghampiri satu abad, mereka akan lumpuh dan menuggu hari untuk ditangisi. Betapa bahagianya setiap keluarga yang tak pernah menyaksikan penderitaan orang terkasih yang menanggung rasa sakit di sekujur tubuhnya. Seorang istri tak perlu mendekap di rumah sakit menunggui suaminya sembuh, orang-orang kurang mampu yang pesakitan,tak usah dimasukkan ke bangsal dan membuat keluarganya terlelap di lantai dingin rumah sakit bermalam-malam.

Jaminan kesehatan penduduk Kota Ini terletak pada petani. Para petani adalah kaum perempuan, sejak awal mereka yang meciptakan budaya bertani untuk mengisi waktu luang,  saat suaminya pergi melaut atau berburu ke hutan. Halaman depan rumah adalah lahan yang dipergunakan untuk memulai kegiatan bercocok tanam. Mulanya mereka hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan menjaga kepulan asap di dapur. Seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka memproduksi untuk memenuhi kebuthan orang lain. Tanaman berupa sayuran dan padi mereka tanam dengan sistem bertani alami, tanpa meggunakan bahan kimia, mereka mengandalkan alam untuk bekerja menumbuh suburkan seluruh tanamannya. Gulma dibiarkan tumbuh tanpa mencabut atau melumurinya dengan bahan kimia. Gulma ini berfungsi untuk mengendalikan hama saat lahan petani terserang serangga atau oragnisme pengganggu tanaman lainnya. Jadi, meskipun tanaman petani terserang hama, jumlah tanaman yang gagal panen tidak sampai merugikan  petani. Mereka memahami bahwa alam ini telah berjalan sekian lamanya, sehingga manusia dirasa tidak perlu terlalu mengubah hal-hal yang sifatnya alami. Terbukti, seluruh hasil pertanian alami yang dijual ke pasaran dan dikonsumsi oleh seluruh penduduk, mampu menghindarkan penduduk dari penyakit dan umur yang pendek.

BACA TULISAN SEMANTIK LAINNYA DISINI

Sedang kaum laki-laki, sebagian besar berprofesi sebagai seorang nelayan tradisional. Para nelayan berangkat melaut setelah matahari tertelan di ujung cakrawala. Mereka menangkap ikan menggunakan alat pancing tradisional, hasil tangkapan ikan tidak pernah berlebihan, asalkan dirasa telah memenuhi kebutuhan sehari dua hari, maka nelayan akan memutar kemudi menuju pantai. Hasil tangkapan segera dijual dalam kondisi ikan yang masih sangat segar. Sungguh berbeda dengan kapal-kapal besar yang menjaring ikan di tengah lautan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kemudian pulang membawa beberapa ton ikan yang nampak segar, karena kerja baik es batu dan sedikit bahan kimia. Ikan-ikan inilah yang terpajang dengan tampilan seksi di supermarket kota-kota besar, lalu menempuh perjalanan panjang menuju piring keramik pada sebuah restoran.

Tidak banyak perusahaan yang dapat hidup di Kota Ini. Tidak ada bank yang biasa digunakan untuk mengatasi berbagai hal yang berkaitan dengan uang. Bank hanya cocok bagi masyarakat yang memiliki harta tak terhitung akan tetapi miskin rasa aman, maka bank hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Penduduk Kota Ini tidak pernah punya masalah dengan rasa aman. Aksi pencurian dan sejenisnya sangat jarang terjadi, bahkan tidak pernah terdengar ada yang mengalami kehilangan barang  berharganya. Di Kota Ini tidak ada semacam pengacara atau notaris, yang dipercaya dapat mengurus segala persoalan pelik yang terjadi diantara penduduk. Tanah-tanah tempat mereka berpijak adalah tanah tanpa sertifikat, mereka tidak memerlukan itu untuk menjamin rasa percaya kepada orang lain, mereka tidak punya cukup uang membayar jasa notaris hanya untuk selembar kertas sebagai pengganti rasa percaya kepada keluarga. Di Kota Ini tidak ada yang mampu membayangkan untuk mencurangi penduduk lainnya. Mereka tercipta utuk hidup harmonis.

Hingga pada suatu kala seorang peneliti yang sedang menyelesaikan tugas akhir skripsi bertandang ke Kota Ini. Seorang laki-laki remaja yang di dalam benaknya merembes pertanyaan kebingungan tentang sebuah kota yang lebih mirip desa, dia penasaran apa yang telah terjadi hingga sebuah kultur yang aneh menurutnya, bisa berjalan di Kota Ini. Dia memutuskan mewawancarai seorang supir angkutan umum selama beberapa hari, dari hasil wawancaranya dia mengetahui bahwa dulunya Kota Ini merupakan sebuah kota yang sangat metropolitan dan dihuni oleh mahluk individualis. Tujuan hidup para penduduknya hanya untuk mempertegas siapa yang paling berbahagia diantara mereka, dengan menunjukkan seberapa besar rumah dan kemewahan yang dimiliki, seberapa sering mereka mengadakan pesta yang menghabiskan uang tidak sedikit, dengan begitu mereka merasa akan terlihat lebih bahagia daripada orang lain, hal ini terjadi terus menerus.

Berbagai usaha akan mereka lakukan agar mendapatkan kekayaan, bekerja bukan lagi persoalan manfaat melainkan, segala cara menjadi halal untuk dikerjakan, sekalipun harus menipu dan menyusahkan hidup orang lain untuk mendatangkan uang. Tanpa terkecuali walikota, yang membuat kebijakan lalu memajangnya di etalase dan melabeli harga tertentu untuk kepentingan perusahaan si asing. Hutan digundul, gunung dikeruk, perut bumi dicungkil dan air diracuni. Penduduk menjadi kacau balau, air bersih menjadi langka, penyakit bermunculan dimana-mana, petani meringkih kelaparan, anak muda kota menjadi kriminal dan warga makin memlihara dendam satu sama lain. Tak ada kahidupan berkeluarga apalagi bermasyarakat, semuanya menjadi mahluk individual yang mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Akhirnya setelah berapa lama, kondisi seperti itu tiba pada satu titik kekacauan yang memuncak tanpa terkendali. Masyarakat tidak lagi merasa aman, mereka telah memenuhi segala ambisinya, rasanya sia-sia lagi hidup bermewah-mewahan, tak lagi ada guna berpesta setiap hari gelap. Mereka disergap kehampaan, Hati mereka sunyi, pikirannya kosong, kepedihan mendalam menjalar di dalam dadanya, seperti seorang nelangsa sehabis kehilangan sesuatu. Seorang istri kehilangan suaminya, suami kehilangan istrinya, anak kehilangan ibunya, orangtua kehilangan anaknya, hal itulah terjadi di kota metropilitan ini. Pekerjaan, jalanan macet, tempat hiburan, restoran, kafe dan toko besar telah meceraiberaikan keutuhan seluruh anggota keluarga di Kota Ini.

Pada akhirnya seluruh masyarakat kembali menemukan keluarga mereka di meja makan. Sebab ternyata mereka baru menyadari bahwa masakan seorang ibu adalah wujud kasih sayang dan tingkat cinta paling tinggi yang dapat membanjiri setiap hati anggota keluarganya. Dalam sehari, setiap keluarga melakukan perayaan selama tiga kali, saat sarapan, makan siang dan makan malam. Sebuah perayaan tanpa musik yang menggema, tanpa kembang api dan hiasan pesta berupa tawa yang dibuat-buat, tetapi seluruh kebahagian berkumpul di sana. Mereka makan masakan yang hangat tapi hati mereka jauh lebih hangat, oleh sesuatu yang melampaui kata mewah dan berharga. Kita selalu memilikinya dalam bentuk apapun, ialah keluarga.


Syahrani Said, Atas izin Tuhan yang Maha Kuasa, saya diberi roh seorang perempuan, sekaligus tiket perjalanan keliling dunia melalui rahim ibu pada tanggal 26 Mei 1992, Orangtua memberi saya nama Syahrani Said. Demi kebutuhan hidup di masa yang akan datang, saya disekolahkan dari Taman Kank-kanak hingga menyelesaikan perjalanan menuntut ilmu di jurusan Agribisnis, fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Makasaar pada akhir tahun 2014. Setelah menuntut ilmu di perguruan tinggi, saya melanjutkan perjalanan menuntut ilmu di kehidupan bermasyarakat, belajar dengan metode berbagi. Mengerjakan apa saja yang saya rasa mampu untuk membawa manfaat bagi hajat hidup orang sekitar. Tiap hari saya dikerjain oleh pemerintah daerah menjadi tukang kebun pada Kebun Raya Jompie Parepare, saya selalu berharap dipecat agar punya kisah hidup yang pilu. Aktifitas saya terbagi dua, aktifitas fisik dan pikiran. Pikiran saya bekerja part time dan teramat sibuk. Saya senang membaca, menulis, berbagi apa saja yang menjadi milikku, bukan membagi milik orang lain. Saya bersama kumpulan teman-teman yang kesepian membuat sebuah zine yang kami beri nama “Orazine” sebagai media yang terbit sebulan sekali dengan tema yang tidak menarik bagi media-media. Saya juga telah mendirikan oragnisasi pemerhati lingkungan bernama “Bumi Lestari” yang harapan dan doanya selalu menginginkan kebaikan untuk kehidupan bumi, meskipun tindak terbesar kami hanyalah menanam pohon. Saya tinggal pada kompleks perumahan nasional blok E.64 Kelurahan Lompoe, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan.

Saya dapat dihubungi melalui email syahranisaid12@gmail.com, jika anda butuh respon cepat silahkan berhubung ke 082113081208.

Yang Disangka Receh, Belum Tentu Receh


Bukan kali ini saja, di hari-hari sebelumnya Baso sering memunguti beberapa keping koin temuannya saat  mengitari komplek perumahan, tempat dimana ia bermukim. Aktifitas yang sengaja ia tunaikan demi sebuah harapan. Harapan akan sesuatu yang jauh hari telah terenggut darinya, yaitu harapan pada bentuk tubuhnya yang kini tak lagi ideal sebagaimana dahulu kala si perut masih berkotak-kotak laksana roti maros. Menurutnya, pola hidup yang tengah ia nikmati sekarang adalah alasan utama tubuhnya menumbuh ke samping. Olehnya itu, ia bertekad berkeliling tiap sore, membakar habis lemak yang bersarang di sekujur tubuhnya, termasuk di perut. Bukan perkara mudah memang. Sebab, bukan hanya kesanggupan meninggalkan kebiasaan serba nyaman saja yang dibutuhkan. Akan tetapi, keseriusan melatih diri untuk terus memupuk kesabaran juga adalah kuncinya. Tanpa itu, usaha yang dilakukan bisa saja terhenti di tengah jalan. Lalu, kembali memutuskan bertolak kemudi menuju arah sebelumnya.

Kembali ke soal koin temuan Baso. Beberapa hari ini, selama ia bertawaf di kawasan komplek, memang tidak jarang ia mendapati koin-koin berserakan begitu saja di jalan yang dilaluinya, tanpa ada sepasang mata yang menunjukkan rasa empati atas nasibnya. Dengan berbalut tanah, Baso tahu jika uang logam itu sudah menghabiskan banyak hari disitu.

“Apa yang membuatmu sampai jauh terbuang ke sini? Tidak seharusnya kau di sini. Sebab, takdirmu berpindah dari tangan ke tangan. Sungguh malang nasibmu, sayang kau tak semujur saudaramu, si uang kertas”, bisik Baso dalam hati merenungkan nasib si koin.

“Tapi sudahlah, dari pada memikirkan nasibmu lama-lama. Alangkah baiknya jika kau ikut saja denganku. Semoga saja kau betah dikantong ini”, katanya kepada koin sambil meletakkannya pada saku bajunya, baju yang sudah lama berpuasa dari sentuhan air kecuali oleh keringatnya sendiri.

Setelah menjauh dari lokasi pertemuannya dengan si koin,  Baso kini tengah melintas di depan rumah karibnya. Siapa lagi kalau bukan Beddu. Hanya mereka berdua yang tidak mendapat ruang di kelompok lain. Oleh karena berujung dengan nasib  serupa, yang bisa dikata tidak jauh berbeda dengan apa yang menimpa si koin. Maka, atas dasar persamaan sebagai nasib orang terpinggirkan, lahir kata sepakat untuk merajut tali pertemanan diantara mereka. Namun soal prinsip dan isi kepala, Baso mengekor dibelakangnya. Seperti soal prinsip ketika ia menegaskan untuk tidak berlaku latah dengan mengenyam bangku sekolahan. Hal yang pernah ia utarakan alasannya kepada sahabatnya itu kala bersua di kedai Pak Ali dahulu.

Kebetulan sore itu, Beddu sedang di teras rumahnya, menikmati pisang goreng dan kopi hitam hasil olahan tangan Emaknya terkasih. Dan tepat saat itulah Baso melintas di mukanya.

“Singgahki sappo”, sapa Beddu menawarkan.

Mendengar tawaran itu, Baso menunjukkan wajah sumringah, tanda bahwa ia senang ditawari. Namun bukan lansung menerima, melainkan tawaran itu ditanggapinya dengan basabasi dulu. Ia menolak halus. Meniru kebiasaan orang yang lagi malu-malu ketika ditawari sesuatu.

“Iye sappo, terima kasih. Lain kali saja”, katanya sambil berharap untuk dicegah. Seumpama cewek yang hendak dimengerti walau hanya memberi kode terserah.

Tetapi bukan Beddu namanya kalau ia tidak kenal maksud Baso. Sepertinya, ia sudah sering melihat adegan itu. Makanya, ia melontarkan respon dengan nada canda.

Baiklah kalau begitu. Sebenarnya saya juga cuma pura-pura menawari. Sekedar berbasabasi, supaya disangka baik seperti yang biasa orang-orang lakukan. Kalau mau terus, malah lebih bagus. Setidaknya, saya tidak perlu berbagi pisang goreng dan kopi denganmu”, katanya.

“Kurang ajar”, umpat Baso dengan nada jengkel.

“Bercanda, tidak usah didramatisir segala kalau memang butuh.”

Dengan senyum yang merekah di bibir tebalnya, Baso menjawab, “ya sudah, kalau kita memaksa, saya akan mampir sejenak demi menyenangkanmu”.

Beddu langsung saja melayangkan sendalnya ke arah Baso, karena merasa geli dengan apa yang barusan dikatakannya, “gayamu, lagu lama.”

Sore itu, mereka bercengkrama begitu akrabnya. Dari kejauhan orang akan melihatnya sebagai percakapan lepas yang tampak bahagia dan bersahaja. Sambil menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan Beddu untuknya. Tanpa rasa segan lagi, Baso lansung berterus terang.

“Sudah ada kopi, tapi belum dengan temannya sappo? ”tanyanya.

Tanpa babibu, Beddu lansung paham arah yang dimaksudkan  sahabatnya itu. ia merogoh kantongnya untuk mengeluarkan sebungkus rokok yang tidak lagi penuh, lalu menawarkannya.

“Merokokki sappo, lebih massadidu lagi rasanya itu pisgor sama kopi kalau dinikmati sambil merokok ”, tawarnya dengan basabasi.

“Bah, biar tidak bilang, semua perokok juga tahu itu sappo”, jawab Baso sambil tertawa.

BACA SERIAL BASO DAN BEDDU LAINNYA DISINI

Kepulan asap yang sesekali mereka hembuskan, menambah kehangatan pertemuan dua anak muda sore itu. Tidak terasa sudah berapa batang yang telah menjelma abu dan menyisakan puntung pada asbak mungil di tengah mereka. Kini kopi tinggal seperdua. Begitu juga halnya dengan pisang goreng buatan Emak. Tetiba saja Baso kembali  merenungkan nasib si koin yang kini menjadi penunggu sakunya. Karena dirundung kecamuk di kepala, ia pun menceritakan ihwal pertemuannya dengan si koin.

“Bed,” sapaan mesra Baso kepada sahabatnya itu.

“Apa?”

“Setiap saya mengitari komplek ini, selalu saja ada koin yang saya temukan tergeletak tanpa daya di pinggir jalan,” terangnya kepada sang sahabat.

 “Lalu, apa masalahnya?” balas Beddu yang terkesan cuek saja.

“Maksud saya, kenapa orang-orang tidak lagi memperlakukannya sesuai peruntukkannya. Jangankan dilihat sebagai alat tukar, bahkan untuk  melihatnya sebagai sesuatu yang masih memiliki guna bahkan nyaris sirna. Botol plastik malah lebih kerap dipungut dibanding ia. Apa ia memang telah kehilangan nilai dan fungsi sebagai salah satu mata uang yang sah? Karena jikalau ia masih saja uang, pastinya ia tidak terhempas jauh hingga ke jalan. Orang-orang akan ramai memperebutkannya. Sama dengan kedudukan uang lainnya.

Beddu terdiam sejenak. Seolah memberi isyarat kepada sahabatnya bahwa ia tengah berfikir, mencari jawaban yang pas untuk mengobati kerisauan sahabatnya akan nasib si koin. Kemudian Beddu pun bersuara, “seperti kau tidak tahu saja sappo apa yang berlaku di tengah masayarakat kita ini. Dan besar kemungkinan, hal sama tidak hanya berlaku disini tapi juga disetiap belahan dunia lainnya. Sejatinya kawan, sangat kecil kemungkinan untuk mendapati seseorang yang dengan rela mengarahkan perhatiannya ke arah sesuatu yang  telah dianggap bernilai rendah, apalagi jika sesuatu itu malah disangka telah kehilangan nilai”.

Beddu masih melanjutkan, “namun bagi saya, si koin yang dihinakan itu masih tetap dengan nilainya yang sama seperti dulu. Hanya saja ia mengecil jika dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Di mata manusia sekarang, keberadaannya tak lebih dari sebuah barang yang telah kehilangan daya tarik. Mungkin sama dengan pakaian yang telah usang atau makanan yang baru saja disisakan oleh pengunjung restoran dengan sengaja. Tidak ada yang mau memakai pakaian itu. Begitupun kiranya dengan makanan sisa tadi, tidak ada yang berminat lagi memakannya. Dengan sigap, keduanya lantas dibuang oleh orang-orang. Tapi ini pengecualian. Sebab,  tidak semua kalangan sama dalam memandang nilai. Yang menjadi inti, bahwa di era ini, ia telah ditinggal masa kejayaannya. Cahayanya meredup, telah lekang seiring dengan gulirnya waktu”.

“Apakah tak ada lagi guna yang tersisa untuknya?” kembali Baso mengharap jawaban.

“Jawabannya tentu masih sappo, berbicara nilai sebaiknya tidak dengan mengebiri maksudnya. Namun, perlu kau ketahui bahwa tidak semua orang merawat kepekaan dalam dirinya jika hanya berurusan dengan hal perkara sepele dan sia-sia, sama urusannya dengan si koin yang bersarang di kantongmu itu. Setelah dianggap tak lagi bertugas sebagai alat tukar, kepeduliaan orang-orang terhadapnya pun akan perlahan menguap, lenyap entah kemana. Padahal jika beralih fungsi ke hal lain tentu ia bahkan sangat berguna dan bernilai. Dan untuk mengetahuinya, si koin dan hal lain yang bernasib sama itu harus berada di tangan seseorang sepertimu sappo”, terang Beddu.

Mendengar penjelasan yang seakan memujinya, pipi Baso pun merona, nampak kemerah-merahan. Mungkin saja merahnya sama dengan pipi St. Aisyah ra, kala dipuji oleh Baginda Rasulullah SAW. Dengan agak tersipu, ia segera menegakkan posisi duduknya. Mencoba mengendalikan rasa bangga yang sedang memenuhi dadanya agar tidak sampai berbuah angkuh.

Melihat itu, Beddu kembali melanjutkan penjelasannya, “Begini sappo, jika si koin tadi kau bawa dan letakkan pada tempat dimana ia telah dianggap tak lagi bernilai. Tentu yang dijumpainya adalah nasib yang serupa dengan barang yang telah diabaikan. Namun sebaliknya, jika diletakkan pada sesuatu yang dimana ia memiliki fungsi. Maka jelas ia tetap bernilai”.

“Seperti apa contohnya?” tanya Baso lagi.

“Sederhananya, kau bisa gunakan untuk menggesek voucher”, katanya sembari memperdengarkan tawa.

“Hanya itu?”

“Tidak juga. Kau bisa juga menggunakannya untuk mengerok punggung, jika sedang terserang masuk angin”, ledek Beddu ke sahabatnya.

“Mungkin terdengar sangat receh, sama kedudukan yang disematkan kepadanya. Tapi fungsi-fungsi seremeh itulah yang kadang membuatnya dicari. Dan pastinya bukan hanya itu saja, masih banyak fungsi lainnya. Jika saja kita tahu bagaimana menempatkan dan memperlakukan ia sesuai porsinya sappo,” kembali Beddu mencoba menerangkan.

“Betul juga,” Baso mengamini penjelasan sahabatnya.

Beddu masih meneruskan, “sama seperti dengan kita sappo, yang katanya manusia. Jika sekiranya kita diperhadapkan pada sesuatu yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan kapasitas kita. Tentu kita akan kehilangan nilai di mata yang lain. Pastinya tuduhan tak berguna pun akan menghampiri telinga kita. Parahnya, jika sampai status sampah masyarakat juga dihadiahkan untuk kita. Yang mana keberadaannya dianggap sebatas turut menyumbang kotoran saja. Maka bijaknya, jika segalanya diatur peletakannya sesuai porsi masing-masing. Sebab, pakaian lusuh dan usang pun akan berguna walau hanya menjelma sebagai kain pel saja, seperti yang sebelumnya saya umpamakan. Memang, terkesan rendah. Namun, orang kerap lupa bahwa lantai mengkilap oleh karenanya.”

Baso hanya membalasnya dengan anggukan, menunjukkan tanda keseriusan mendengarkan. Karena begitu seriusnya, mereka lupa menyeruput kopi dan menghisap rokok. Beddu kembali menyalakan rokoknya yang semenjak tadi terabaikan. Setelah menikmati beberapa isapan, yang tak jarang ia membentuk lingkaran dengan asapnya, ia pun kembali berceramah dihadapan Baso.

“Jika kau tidak menginginkan nasib yang serupa dengan koin di kantongmu itu sappo, maka lekaslah belajar agar kelak kau jumpai kualitas dirimu semakin terasah. Hingga pada waktunya nanti, kau semakin faham bagaimana cara memperlakukan dan juga menerima perlakuan dari sekitar. Tidak usah ditanya lagi, tentu kau faham mengenai hakikat nilai. Kau pastinya juga tahu kalau itu jauh dari jangkauan manusia seperti kita. Sebab, itu jelas hak paten dari Maha Pemberi Nilai.”

“Bukan di tangan kita tugas menilai ditaruh. Apa yang dialami si koin, hanya karena hari ini orang-orang dengan sukarela menjadi budak hasratnya. Lantas dengan pongah menilai berdasar pada hasratnya. Semoga kita berujung dengan tidak menjadi seperti mereka sappo,” lanjut Beddu.

Tidak berselang lama setelah harapan itu disampaikan oleh Beddu, adzan maghrib pun terdengar dikumandangkan dari corong mesjid Babanna Soroga, mesjid yang sengaja diberi nama bugis sesuai identitas jama’ahnya. Dengan adzan sebagai penanda, kini telah tiba waktu dimana mereka harus segera menghadap. Baso pamit undur diri, setelah mengucap syukur dan terima kasih kepada sahabatnya atas nasihat dan jamuan sederhananya.

Abdurrahman Wahid Abdullah / Kangur

Follow by Email