sponsor

Terbaru

Perspektif

Opini

Semantik

Anabel

Kolom Puisi

Sejarah

Jejak Hari Bumi Sedunia



Para pemerhati lingkungan sedunia, akan kembali memperingati Hari Bumi sedunia tahun yang jatuh pada tanggal 22 April. Nah bagaimana awal mula Peringatan Hari Bumi digagas? hingga bisa menginspirasi lahirnya berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup seperti Greenpeace di Kanada, organisasi lingkungan fenomenal dengan aksi-aksi nekat nan kreatif. 

Pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan bertepatan tanggal 22 April 1970, kira-kira 20 juta warga Amerika Serikat dan mahasiswa  turun ke jalan memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan.  Mereka berkumpul menentang kerusakan lingkungan yang disebabkan buruknya saluran pembuangan, serta semakin punahnya kelestarian flora di negeri itu. Aktor utama aksi nasional itu adalah Gaylord Nelson, politikus dan senator pertama yang menyuarakan isu-isu lingkungan menjadi agenda Senat AS.

Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak Nelson menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, Dalam pidato, ia mendesak perlunya memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dengan dicanangkannya Hari Bumi.

Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan Hari Bumi yang monumental. ketika jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970.

Nelson menyebut fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana  masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an.

Kesadaran terhadap lingkungan hidup pada masyarakat di Amerika Serikat mulai tergugah semenjak diterbitkannya buku “Silent Spring” karya Rachel Carson pada tahun 1962. Buku ini mengangkat seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia. Sejak beredarnya buku ini bermunculanlah berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan Hari Bumi menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle.

Puncaknya, yaitu saat kelompok-kelompok ini berhasil menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan dalam pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970. Saat itu sebenarnya ada beberapa tema lain selain masalah penyelamatan lingkungan hidup, antara lain masalah anti perang Vietnam, masalah anti rasial, dan beberapa permasalahan sosial yang lain. Namun masyarakat Amerika saat itu lebih memfokuskan gerakan aksi besar-besaran ini pada tema lingkungan hidup yang dibawakan sebagai pesan terhadap kalangan politisi dan pemerintah untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

Dari keberhasilan gerakan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 di Amerika, lahirlah berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup, antara lain Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (kelompok pelestari lingkungan yang cukup radikal dan militan, lahir pada tahun 1971), Environmentalist for Full Employment (kelompok penentang industrialisasi, lahir tahun 1975), Worldwatch Institute (pusat penelitian dan studi yang mengumpulkan berbagai informasi ancaman lingkungan global, lahir tahun 1975), dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang lain.

Belajar Dari Sosok Kartini


“Menyandarkan diri kepada manusia samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah adalah hanyalah satu, siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia benar-benar bebas” (Surat R.A Kartini kepada Ny. Ovink, Oktober 1990)

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Kartini adalah simbol kebangkitan dan pergerakan wanita yang langkahnya diilhami oleh nilai-nilai ajaran Islam. Terlahir sebagai putri dari seorang Bupati Jepara menyebabkan dirinya dikungkung oleh adat istiadat yang mengharuskannya mengasingkan diri dari dunia luar sampai ketika memiliki suami. Kartini berupaya untuk lepas dari keadaan yang merantainya tetapi beban yang dipikulnya terlalu berat sehingga membuat pikiran dan mentalnya matang lebih cepat dari yang seharusnya.

Sejak ia masih muda hingga akhir hidupnya, ia memiliki kebiasaan membaca buku. Waktunya banyak dihabiskan untuk memberi makan jiwanya yang lapar akan pengetahuan, pencerahan, kasih dan keadilan yang tidak bisa dia dapatkan dari sekolah. kebiasaan yang dipeliharanya ini pula yang mendorong Kartini sangat sering melakukan korespondensi. Karena perkataannya tidak diamini oleh orang-orang yang ia harapkan, segala keinginan dan perlawanannya ia tuliskan diatas kertas kepada sahabat-sahabat lintas negara yang dikenalnya melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam sebuah majalah dengan harapan agar keinginannya mendapatkan respon baik dari sahabat-sahabatnya. Hanya untuk sekadar meyakinkan bahwa pemikiran akan kebebasan dan kepedulian akan pendidikan bukan hanya dimilikinya seorang. Kumpulan surat R.A Kartini yang menginspirasi banyak orang terutama kaum wanita sepanjang masa bisa didapatkan dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Terbatasnya ruang gerak sebagai seorang bangsawan tidak menghalangi keinginan besarnya untuk mengabdikan diri kepada kebajikan serta memajukan peradaban dan pendidikan kaum wanita agar kelak wanita memiliki posisi yang layak dan bersifat egaliter dengan kaum laki-laki. Pada saat itu, keberadaan wanita di Jawa tidak lain hanya menjadi manusia yang termarginalkan. Kezaliman yang dianggap kelaziman ini sangat menyakiti hati Kartini. Dia menginginkan agar wanita mendapatkan pendidikan layaknya laki-laki. Bagaimanapun, banyak wanita di Jawa memiliki kecakapan khusus dalam berbagai bidang tapi tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengembangkannya. Pikiran Kartini dipenuhi oleh mimpi besar dibalik umurnya yang masih tergolong muda. Untuk itu, Segala kesulitan dihadapinya dengan teguh termasuk perselisihan yang kerap kali terjadi diantara Kartini dan keluarganya. Di sisi lain, Kartini sangat menghargai dua manusia yang telah merawatnya dari kecil. Tak terbesit sedikitpun niat di hatinya untuk mematahkan hati ibu bapaknya.

BACA TULISAN DI RUBRIK SOSOK LAINNYA DISINI

Keinginan yang terus dia pupuk memicu dilakukannya segala hal agar dapat keluar dari belenggu yang mencambuknya terus-menerus. Tiada lain yang bisa dilakukannya selain tegak berdiri melawan ketidakadilan yang terjadi padanya. Kartini menolak tunduk pada kekejaman zaman dan memilih untuk menemukan jalan baru diantara kemungkinan buruk yang mengancamnya saat mengambil langkah nyata untuk mewujudkan impiannya.  Betapa tidak, dia sama sekali tidak mendapat dukungan dari seorangpun di sekitarnya. Bukannya menyerah, semangatnya kian membara untuk lepas dari belenggu adat-istiadat demi mewujudkan cita-cita besarnya. Tak henti-hentinya ia melakukan perjuangan untuk kebahagiaan masyarakat luas.

Pada akhirnya beberapa sekolah berhasil didirikan atas segala usaha Kartini yang diperuntukkan untuk perempuan pribumi. Sekolah Kartini pada awalnya dibangun di Semarang pada tahun 1912 lalu didirikan di beberapa tempat lainnya. Mari belajar dari R.A Kartini, didorong oleh pemikiran yang maju serta niat yang mulia untuk mengusahakan pendidikan untuk kaum wanita berhasil dia wujudkan dengan keyakinan yang besar. Betapa berharganya menjadi wanita yang merdeka dan alangkah bahagianya ketika segala hak terpenuhi.

Bayang-Bayang Asumsi Politik Dibalik Aksi HmI Parepare



“Kami mengutuk kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi listrik rakyat Bahwa Pencabutan Subsidi listrik adalah merenggut hak Rakyat dan sangat membebani rakyat karena dangan pencabutan subsidi tersebut membuat tarif dasar listrik meningkat lebih dadri 100%. sehingga kami mendesak pemerintah untuk mengembalikan subsidi listrik milik rakat”

Demikianlah point pertama yang termaktub dalam pernyataan sikap Aksi Hmi Cabang Parepare, aksi yang diikuti ramai sepasang kaki yang sesekali berseru “hidup mahasiswa, hidup rakyat !”, aksi yang mencoba memblejeti rezim Jokowi-Jk di akhir-akhir kekuasaannya, sebelum bergulir dalam pesta ilusi demokrasi di tahun 2019 nanti.

Mendengar seruan aksi dan melihat gegap gempita mahasiswa berbondong turun kejalan menjadi pemandangan yang indah dipelupuk mata, bagaimana tidak, setelah kian hari telah jarang ditemui. Gerakan mahasiswa yang telah lama sibuk di kantin-kantin kampus seolah digedor kembali untuk ikut sadar dan kembali pada koridor sebagaimana tradisi dan budaya alamiah gerakan mahasiswa, gerakan yang terhubung dengan elemen diluar dirinya ; petani, buruh, nelayan, kaum kere kota-rakyat secara umum.

Siang tadi teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam telah berusaha melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh gerakan mahasiswa. Tidak hanya kemudian menyikapi keluh kesah rakyat akan berbagai macam kebijakan yang semakin menyengsarakan dirinya, tetapi bagaimana mengembalikan khittah gerakan mahasiswa yang sejati.

Berbagai macam tuntutan diserukan (Baca Pernyataan SikapAksi HmI), rentetan kalimat agitatif terdengar lantang dari toak yang tergenggam erat ditangan orator. Berusaha menyampaikan keluh kesah rakyat atas kedzaliman si pemegang tahta kuasa, begitu menurutnya.

Tetapi ada yang kemudian mengganjal sisi lain dari diri saya, ekstrimnya langsung menjatuhkan penghakiman yang bersifat asumsi, bahwasanya aksi Hmi Parepare bertendensi menolak rezim Jokowi dan berdiri pada barisan sebagai pendukung salah satu kandidat yang sudah pasti bukan Jokowi dan gerbong PDIP. Tetapi tenang saja, sisi lain diri saya pun tak sependapat dengan pernyataan tersebut, itu tuduhan yang ngawur, bukan analisa kritis.

Lama kelamaan seolah apa yang disampaikan sisi lain dari diri saya mencoba untuk kembali diperdebatkan dalam pikiran dan hati, seolah-olah memeberikan beberapa pemaran sebagai penopang dari argumentasinya. Memang agak rumit memberikan sikap terhadap Aksi tersebut, dilain sisi ikut mendukung gebrakan yang dilakukan (karena seolah kembali memperlihatkan betapa runcingnya mata tombak gerakan jika terus di asa) tetapi juga meninggalkan rentetan pertanyaan, mengapa dilakukan ditahun-tahun politik seperti sekarang ini, tidak kah itu akan mengundang banyak sikap (pemblejetan) dari berbagai kalangan, begitupun saya sebagai salah satu kader.

Kita bisa kembali menengok dan belajar dari kasus Puisi “Ibu Indonesia”. Jelas bagaimana reaksi berlebihan masyarakat terhadap Puisi “Ibu Indonesia” dari Soekmawati Soekarno Putri. Kesalahan dari puisi itu sebenarnya tidak ada, kalaupun ada anggaplah itu tidak signifikan, toh orang bebas mengeksplor kata demi kata dari pikiran dan apa yang ia rasakan, tetapi yang keliru ialah ketika dibacakan dalam konstalasi politik yang sedang sensitif, belum lagi soal latar belakang si pembuat dan pembacanya, dimana kita tahu Soekmawati adalah adik dari pemegang kendali PDIP sebagai partai yang memegang rezim hari ini. Hal yang sama lah yang saya (sebagai Kader) takutkan terhadap aksi teman-teman HmI Cabang Parepare siang tadi, jelas akan berpotensi melahirkan banyak asumsi bahkan pemblejetan dari berbagai kalangan.

Tetapi memang agak sulit menghindari asumsi bahkan kritik itu, apalagi jika ditopang oleh track record dan historical HmI itu sendiri. Riuh rendah para senior sudah mulai terlihat dibeberapa perhelatan politik nasional dan daerah, artinya nilai luhur yang coba dijaga kian zaman mulai terkikis hingga syahwat politik sudah mulai tumbuh didalam lingkar organisasional.

Di ulang tahun ke 70 Nurcholis Madjid sempat mengeluarkan pernyataan tentang pembubaran HmI, pernyataan itu ditopang oleh hal yang ia temui di masa dewasa HmI, dimana HmI sering kali dijadikan batu loncatan senior dalam menyulam karir politiknya. Sebenarnya hal semacam ini tidak hanya dialami oleh HmI saja, organisasi lain pun demikian. Kekeliruannya memang berdasar pada budaya senioritas yang terus dijaga dan kembangkan sebagai dogma, hingga kerap kali kita temui praktik “pencabulan” senior terhadap intelektualitas dan analisa kritis kader-kader baru atau junior.

BACA TULISAN OPINI LAINNYA DISINI

Politik praktis memang sering kali menjadi penyakit bagi lingkar gerakan, organisasi apa pun itu. Belum lagi soal hubungan antara junior yang masih terwadahi oleh organisasi dengan para senior yang sudah berkarir dalam politik parlementariat, senior yang terkadang menyelipkan latar belakangnya bahwa ia dari bendera ini dan itu. Celah ini lah yang terkadang mengotori khittah gerakan organisasi khususnya kelompok cipayung yang memang banyak mengkontribusikan kadernya dalam konstalasi politik negeri. Dan parahnya jika ada kebanggan dengan alumni-alumni (baca kakanda-kakanda) yang kini duduk di kursi-kursi kekuasaan, karena hal ini bisa berakibat pada pengendalian licik terhadap organisasi oleh senior demi menopang kepentingan politiknya.

Begitulah demikian sisi kelam gerakan mahasiswa dari jaman ke jaman, peralihan politik jalanan ke politik parlementariat sudah sering kali terjadi (Baca Gerakan Mahasiswa : DariPolitik Jalanan ke Politik Parlementariat). Kita juga bisa belajar dari bagaimana memori kelam peristiwa 98 dimana sebagian mahasiswa tertembus peluru aparat, dan sebagiannya lagi kini berteman dengan aparat yang (dahulu) menembaki teman-temannya.

Sekali lagi tulisan ini tidak sedang memblejeti siapapun dan apapun, hanya berusaha menghadirkan bahan evaluasi dan refleksi agar kedepan kita sama-sama mampu melahirkan sikap yang (setidaknya) tidak bertendensi kepentingan politik. Semoga kita (sesama kader) bisa saling menjaga nilai luhur organsiasi dan selayaknya kader maju, tidak gagap dalam bertindak, selanjutnya mulai mengikis praktek komando kaku senior agar tidak mudah digerakkan sana sini sesui dengan tuntutan kepentingan politik yang tengah dibangunnya.

Saya ikut mendukung dan berseru atas kedzaliman rezim Jokowi-Jk yang kian hari makin beringas dengan berbagai kebijakan dan regulasi yang tidak pro terhadap rakyat dan mencoba menyumbat ruang-ruang demokrasi rakyat. Tetapi bukan berarti saya mendukung kelompok politik lain atau kandidat politik dalam pesta ilusi demokrasi 2019 nanti, karena saya sadar siapapun kandidatnya selama ia berkendara partai politik borjuasi, selama itu pula ia akan menjadi penyambung tangan ekonomi global dalam memeras rakyat Indonesia.


Idam Bhaskara (Desain Grafis Ngemper!)
Penulis Bisa Dihubungi via Wa 085397849128

Hanya Kota Ini


Di pinggir jalan berjejer para pekerja seni, ada yang memahat kayu menyerupai kepala hewan, pelukis yang redup matanya tetapi jiwanya berbinar, perempuan paruh baya berusara merdu membuat sendu. Bukan hanya itu, berbagai jenis jualan juga berjejeran dengan rapi pada sisi jalan raya. Mereka menawarkan bunga untuk kau berikan kepada kesayanganmu atau menjadi hiasan meja makan, permen lolipop yang ceria, buku-buku bekas berkharisma, dan berbagai jajanan makanan ringan yang tidak mengeyangkan. Mereka memilih pinggir jalan sebagai ruang interaksi sebab di jalanan mereka bebas berekspresi, menatap apa saja di sekelilingnya seperti langit dan gedung-gedung tua, bertemu orang-orang baru, berbincang hangat seperti dua orang kawan lama. Mereka dapat memperlambat laju kendaraan setiap yang lewat, gara-garanya pengemudi yang selalu menoleh ke arah sisi jalanan karena penasaran dengan karya para seniman Kota Ini. Keberadaan para seniman dan penjual telah menjadi ciri Kota Ini, rasanya seperti mengunjungi sebuah pameran karya yang digelar di di sepanjang jalan, di sepanjang hari. Kemacetan adalah parade yang paling ditunggu oleh setiap pengemudi, macet berarti mereka dapat lebih lama menikmati seniman yang unjuk gigi mempertontonkan karya mereka. Begitupun dengan para penjual yang ikut berjejeran di sepanjang jalan, mereka menyapa pengemudi dengan ramah sambil menawarkan sesuatu dan berharap akan tertukar dengan uang. Kemacetan begitu dicintai di Kota Ini.

Ada banyak hal yang membuat Kota Ini benar-benar berbeda. Di kota-kota lain, menjadi PNS merupakan kebanggan dan segala bentuk kenyamanan hingga jaminan hidup dapat terpenuhi. Maka dari itu, hampir seluruh orang memimpikan pekerjaan itu tanpa terkecuali para orangtua yang memimpikan anaknya. Tetapi di Kota Ini terjadi sebaliknya, menjadi PNS adalah hal yang paling dihindari oleh sebagian besar orang muda, yang terbilang produkrif di Kota Ini. Mereka lebih memilih memegang cangkul, mengemudi sampan atau menari dengan kuas di hadapan kanvas. Seluruh pegawai yang mondar-mandir di kantor milik pemerintah adalah mereka yang merantau jauh-jauh demi mengabdi kepada negara, di dadanya ada rindu yang tersekat oleh kebanggan. Sanak keluarga mereka di kampung halaman akan berbangga hati menceritakan siapa anaknya dan sebagai apa anaknya di rantau, meskipun dalam benak kedua orangtuanya telah bersemayam sunyi, yang mulai nampak kusam menunggu kepulangan anak-anaknya. Tiada lain yang dapat orangtua lakukan selain merapal doa-doa ke angkasa, di hening malam saat kening menunduk, itulah doa para orangtua yang melesat ke langit tanpa putus, tiada henti.

Salah seorang penduduk di kota ini pernah merantau dan bertahun-tahun menjadi pengabdi negara. Sepulang dari rantau, dia bercerita banyak hal tentang pekerjaannya. Dia menceritakan bahwa menjadi seorang aparatur negara adalah kesenangan tersendiri, sebuah alat yang sangat ampuh untuk membeli rasa hormat dari orang-orang. Gaji yang tidak terlalu tinggi tetapi bisa menjadi jaminan masa depan. Pekerjaannya tidak berat, tidak harus menggunakan otot cukup menundukkan ego menerima perintah atasan, meski keinginan memberontak selalu muncul, mereka harus memilih lapang dada sebagai persembunyian. Berpakaian seragam ditambah dengan lambang dan ornamen yang lebih berfungsi menegaskan siapa dirinya, setinggi apa pangkat dan jabatannya. Akhirnya dia pensiun dan masih menerima upah dari negara atas jasa pengabdiannya, kemudian negara mengembalikannya menjadi bukan siapa-siapa lagi.

Tidak ada restoran atau rumah makan di Kota Ini, restoran hanya untuk orang-orang yang cinta kemewahan, sedangkan penduduk kota ini penganut sederhana. Mereka tidak ingin membuang waktu duduk berlama-lama menunggu pesanan makanan, yang sangat minimalis dan mahal. Sepertinya restoran sengaja diciptakan untuk mengundang sunyi duduk bersama lalu menertawainya. Hampir sama dengan kafe-kafe, penduduk di kota ini tidak tahan duduk berjam-jam hanya untuk membicarakan negara yang terkatung-katung. Penduduk Kota Ini tidak membutuhkan kafe untuk menghindari sunyi atau duduk mengenang kekasihnya yang entah sekarang sedang berada di pelukan siapa. Mereka tidak perlu ke kafe bertemu teman-temannya, lalu tertawa terbahak hingga tanpa mereka sadari pengunjung yang lain telah tanggal satu persatu, juga minuman di gelas telah tandas. Cara yang buruk membunuh waktu.

Perekonomian di Kota Ini bergerak mengalir seperti air, tidak ada yang mendominasi dan makan dari perbuatan mencurangi orang lain, melalui tawaran produk atau asuransi jiwa. Masyarakat paham betul dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari, mereka mengenal tiap resiko dari pekerjaannya, mulai dari resiko kerugian hingga resiko kehilangan nyawa. Mereka menganggap pekerjaannya hanyalah memberi manfaat bagi siapapun yang membutuhkan, maka kehilangan nyawa karena pekerjaan hanyalah cara Tuhan menggenapkan amalnya masuk ke surga, tidak ada yang perlu dirisaukan. Tawaran asuransi jiwa hanyalah seperti menabung untuk sebuah perayaan menunggu kematian, kita menimbun agar dapat menghibur orang-orang yang akan kita tinggalkan kelak, agar mereka tidak nelangsa dan segera ikhlas.

Selain aasuransi jiwa, asuransi kesehatan juga tidak berlaku di Kota Ini. Penduduk tidak perlu merasa terancam oleh berbagai penyakit yang akan bersarang pada tubuh mereka. Angka kematian dengan alasan sakit jumlahnya hampir tidak ada, kecuali penduduk yang sudah tua dan memiliki usia menghampiri satu abad, mereka akan lumpuh dan menuggu hari untuk ditangisi. Betapa bahagianya setiap keluarga yang tak pernah menyaksikan penderitaan orang terkasih yang menanggung rasa sakit di sekujur tubuhnya. Seorang istri tak perlu mendekap di rumah sakit menunggui suaminya sembuh, orang-orang kurang mampu yang pesakitan,tak usah dimasukkan ke bangsal dan membuat keluarganya terlelap di lantai dingin rumah sakit bermalam-malam.

Jaminan kesehatan penduduk Kota Ini terletak pada petani. Para petani adalah kaum perempuan, sejak awal mereka yang meciptakan budaya bertani untuk mengisi waktu luang,  saat suaminya pergi melaut atau berburu ke hutan. Halaman depan rumah adalah lahan yang dipergunakan untuk memulai kegiatan bercocok tanam. Mulanya mereka hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan menjaga kepulan asap di dapur. Seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka memproduksi untuk memenuhi kebuthan orang lain. Tanaman berupa sayuran dan padi mereka tanam dengan sistem bertani alami, tanpa meggunakan bahan kimia, mereka mengandalkan alam untuk bekerja menumbuh suburkan seluruh tanamannya. Gulma dibiarkan tumbuh tanpa mencabut atau melumurinya dengan bahan kimia. Gulma ini berfungsi untuk mengendalikan hama saat lahan petani terserang serangga atau oragnisme pengganggu tanaman lainnya. Jadi, meskipun tanaman petani terserang hama, jumlah tanaman yang gagal panen tidak sampai merugikan  petani. Mereka memahami bahwa alam ini telah berjalan sekian lamanya, sehingga manusia dirasa tidak perlu terlalu mengubah hal-hal yang sifatnya alami. Terbukti, seluruh hasil pertanian alami yang dijual ke pasaran dan dikonsumsi oleh seluruh penduduk, mampu menghindarkan penduduk dari penyakit dan umur yang pendek.

BACA TULISAN SEMANTIK LAINNYA DISINI

Sedang kaum laki-laki, sebagian besar berprofesi sebagai seorang nelayan tradisional. Para nelayan berangkat melaut setelah matahari tertelan di ujung cakrawala. Mereka menangkap ikan menggunakan alat pancing tradisional, hasil tangkapan ikan tidak pernah berlebihan, asalkan dirasa telah memenuhi kebutuhan sehari dua hari, maka nelayan akan memutar kemudi menuju pantai. Hasil tangkapan segera dijual dalam kondisi ikan yang masih sangat segar. Sungguh berbeda dengan kapal-kapal besar yang menjaring ikan di tengah lautan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kemudian pulang membawa beberapa ton ikan yang nampak segar, karena kerja baik es batu dan sedikit bahan kimia. Ikan-ikan inilah yang terpajang dengan tampilan seksi di supermarket kota-kota besar, lalu menempuh perjalanan panjang menuju piring keramik pada sebuah restoran.

Tidak banyak perusahaan yang dapat hidup di Kota Ini. Tidak ada bank yang biasa digunakan untuk mengatasi berbagai hal yang berkaitan dengan uang. Bank hanya cocok bagi masyarakat yang memiliki harta tak terhitung akan tetapi miskin rasa aman, maka bank hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Penduduk Kota Ini tidak pernah punya masalah dengan rasa aman. Aksi pencurian dan sejenisnya sangat jarang terjadi, bahkan tidak pernah terdengar ada yang mengalami kehilangan barang  berharganya. Di Kota Ini tidak ada semacam pengacara atau notaris, yang dipercaya dapat mengurus segala persoalan pelik yang terjadi diantara penduduk. Tanah-tanah tempat mereka berpijak adalah tanah tanpa sertifikat, mereka tidak memerlukan itu untuk menjamin rasa percaya kepada orang lain, mereka tidak punya cukup uang membayar jasa notaris hanya untuk selembar kertas sebagai pengganti rasa percaya kepada keluarga. Di Kota Ini tidak ada yang mampu membayangkan untuk mencurangi penduduk lainnya. Mereka tercipta utuk hidup harmonis.

Hingga pada suatu kala seorang peneliti yang sedang menyelesaikan tugas akhir skripsi bertandang ke Kota Ini. Seorang laki-laki remaja yang di dalam benaknya merembes pertanyaan kebingungan tentang sebuah kota yang lebih mirip desa, dia penasaran apa yang telah terjadi hingga sebuah kultur yang aneh menurutnya, bisa berjalan di Kota Ini. Dia memutuskan mewawancarai seorang supir angkutan umum selama beberapa hari, dari hasil wawancaranya dia mengetahui bahwa dulunya Kota Ini merupakan sebuah kota yang sangat metropolitan dan dihuni oleh mahluk individualis. Tujuan hidup para penduduknya hanya untuk mempertegas siapa yang paling berbahagia diantara mereka, dengan menunjukkan seberapa besar rumah dan kemewahan yang dimiliki, seberapa sering mereka mengadakan pesta yang menghabiskan uang tidak sedikit, dengan begitu mereka merasa akan terlihat lebih bahagia daripada orang lain, hal ini terjadi terus menerus.

Berbagai usaha akan mereka lakukan agar mendapatkan kekayaan, bekerja bukan lagi persoalan manfaat melainkan, segala cara menjadi halal untuk dikerjakan, sekalipun harus menipu dan menyusahkan hidup orang lain untuk mendatangkan uang. Tanpa terkecuali walikota, yang membuat kebijakan lalu memajangnya di etalase dan melabeli harga tertentu untuk kepentingan perusahaan si asing. Hutan digundul, gunung dikeruk, perut bumi dicungkil dan air diracuni. Penduduk menjadi kacau balau, air bersih menjadi langka, penyakit bermunculan dimana-mana, petani meringkih kelaparan, anak muda kota menjadi kriminal dan warga makin memlihara dendam satu sama lain. Tak ada kahidupan berkeluarga apalagi bermasyarakat, semuanya menjadi mahluk individual yang mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Akhirnya setelah berapa lama, kondisi seperti itu tiba pada satu titik kekacauan yang memuncak tanpa terkendali. Masyarakat tidak lagi merasa aman, mereka telah memenuhi segala ambisinya, rasanya sia-sia lagi hidup bermewah-mewahan, tak lagi ada guna berpesta setiap hari gelap. Mereka disergap kehampaan, Hati mereka sunyi, pikirannya kosong, kepedihan mendalam menjalar di dalam dadanya, seperti seorang nelangsa sehabis kehilangan sesuatu. Seorang istri kehilangan suaminya, suami kehilangan istrinya, anak kehilangan ibunya, orangtua kehilangan anaknya, hal itulah terjadi di kota metropilitan ini. Pekerjaan, jalanan macet, tempat hiburan, restoran, kafe dan toko besar telah meceraiberaikan keutuhan seluruh anggota keluarga di Kota Ini.

Pada akhirnya seluruh masyarakat kembali menemukan keluarga mereka di meja makan. Sebab ternyata mereka baru menyadari bahwa masakan seorang ibu adalah wujud kasih sayang dan tingkat cinta paling tinggi yang dapat membanjiri setiap hati anggota keluarganya. Dalam sehari, setiap keluarga melakukan perayaan selama tiga kali, saat sarapan, makan siang dan makan malam. Sebuah perayaan tanpa musik yang menggema, tanpa kembang api dan hiasan pesta berupa tawa yang dibuat-buat, tetapi seluruh kebahagian berkumpul di sana. Mereka makan masakan yang hangat tapi hati mereka jauh lebih hangat, oleh sesuatu yang melampaui kata mewah dan berharga. Kita selalu memilikinya dalam bentuk apapun, ialah keluarga.


Syahrani Said, Atas izin Tuhan yang Maha Kuasa, saya diberi roh seorang perempuan, sekaligus tiket perjalanan keliling dunia melalui rahim ibu pada tanggal 26 Mei 1992, Orangtua memberi saya nama Syahrani Said. Demi kebutuhan hidup di masa yang akan datang, saya disekolahkan dari Taman Kank-kanak hingga menyelesaikan perjalanan menuntut ilmu di jurusan Agribisnis, fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Makasaar pada akhir tahun 2014. Setelah menuntut ilmu di perguruan tinggi, saya melanjutkan perjalanan menuntut ilmu di kehidupan bermasyarakat, belajar dengan metode berbagi. Mengerjakan apa saja yang saya rasa mampu untuk membawa manfaat bagi hajat hidup orang sekitar. Tiap hari saya dikerjain oleh pemerintah daerah menjadi tukang kebun pada Kebun Raya Jompie Parepare, saya selalu berharap dipecat agar punya kisah hidup yang pilu. Aktifitas saya terbagi dua, aktifitas fisik dan pikiran. Pikiran saya bekerja part time dan teramat sibuk. Saya senang membaca, menulis, berbagi apa saja yang menjadi milikku, bukan membagi milik orang lain. Saya bersama kumpulan teman-teman yang kesepian membuat sebuah zine yang kami beri nama “Orazine” sebagai media yang terbit sebulan sekali dengan tema yang tidak menarik bagi media-media. Saya juga telah mendirikan oragnisasi pemerhati lingkungan bernama “Bumi Lestari” yang harapan dan doanya selalu menginginkan kebaikan untuk kehidupan bumi, meskipun tindak terbesar kami hanyalah menanam pohon. Saya tinggal pada kompleks perumahan nasional blok E.64 Kelurahan Lompoe, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan.

Saya dapat dihubungi melalui email syahranisaid12@gmail.com, jika anda butuh respon cepat silahkan berhubung ke 082113081208.

Follow by Email